Nis Windows

www.niswindows.com

Review Buku : Cara Terbaik Mendidik Anak Agar Rajin Shalat

Posting Komentar

Judul buku : Cara Terbaik Mendidik Anak Agar Rajin Shalat

Penulis : Heru Kurniawan dan M. Hamid Samiaji

Penerbit : PT. Elex Media Komputindo

Tahun :  2017

Jumlah : 228 halaman ebook

Review Buku Cara Terbaik Mendidik Anak

Kenapa Tertarik Baca Buku Cara Terbaik Mendidik Anak Agar Shalat ?

Mendidik anak agar rajin shalat bukanlah perkara yang mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin untuk penulis satu ini. Tentu kita harus tau tipsnya apa aja sih biar perjalanan mendidik anak agar taat beribadah ketika besar lebih mudah.

Awalnya mengira isinya membosankan ternyata sangat menarik. Buku ini terdiri dari 40 Judul yang berisikan beberapa cerita Bapak Heru dalam mendidik anaknya, dan juga pengalamannya dulu waktu dididik Pak De dan Ayahnya.

Kenapa aku sebut menarik ? Karena dibagian bab awal sudah bikin mengerutkan dahi. Anakku adalah anak-anak yang bermain denganku. Kok gitu? 


Review Isi Buku Agar Anak Rajin Shalat

Kalau dulu paling kita berpikir biar anak rajin shalat bisa dengan diimingi hadiah atau diberikan teladan atau dicontohkan melihat orang tuanya rajin shalat. Ternyata itu saja tidak cukup, karena anak-anak adalah makhluk sosial yang akan bermain bersama temannya. Jika temannya tidak baik maka anak kita akan tertular tidak baik.

Gimana mengajak temannya menjadi baik dan rajin shalat? Apa yang diberikan kepada anak kita berikan pula pada teman-temannya. Misalnya makanan, mainan, kasih sayang dan nasehat. Sama persis tanpa membeda-bedakan. 

Jika saat membeli mainan belikanlah juga untuk temannya. Karena selain membuat anak kita senang karena temannya juga dapat hadiah, si teman anak kita pun akan merasa senang kepada kita karena tidak dibeda-bedakan. Sehingga dia akan menurut ketika kita nasehati.

Saat adzan jangan hanya menasehati anak kita untuk sholat tapi ajak juga temannya. Jika si teman tadi tidak membawa peralatan sholat maka kita carikan alat sholatnya. 

Jika hanya anak kita saja yang diajak sholat tanpa mengikutkan si temannya tadi maka anak kita mungkin akan malas sholat karena merasa tidak adil. Temannya masih bisa bermain sedangkan dia harus sholat. 

Kemudian di bab kedua adalah mengenalkan imajinasi surga untuk anak-anak. Ketika ditanya ingin hadiah apa ketika rajin shalat Nera menjawab ingin masuk surga karena mau mandi di sungai yang airnya dari susu. 

Ayah : "Memangnya Nera mandinya sama siapa?"
Nera : "Ya sama Zakka, Tegar, dan Devin" ( adik dan temannya Nera)
Ayah : "Memangnya di Sungai Susu itu, selain mandi, Nera mau ngapain?"
Nera : "Mau mandi sambil minum susu lah yah. Nera mandinya bawa kaleng dan sedotan. Susu di sungai akan Nera masukkan dalam kaleng, kemudian mandinya sambil minum susu pakai sedotan"

Kenapa harus mengenalkan surga terlebih dulu? Agar ketika sholat anak-anak perasaannya senang dan gembira. Berbeda ketika dikatakan harus sholat karena kalau tidak bisa dapat dosa dan masuk Neraka. Maka yang terbayang adalah hal yang menyeramkan.

Selain itu juga untuk anak kecil belum ada dosa hingga dia baligh. Itu berarti sekitar umuran SMP baru mendapatkan dosa. Jadi tidaklah tepat jika agar mereka rajin sholat diancam dengan dosa karena mereka belum bisa mendapatkan dosa. 

Tentu saja tidak semua berjalan mulus, akan ada bagian susahnya. Ketika anak malas ada cara mengatasinya. Gimana cara mengajarkan bacaan sholat dan hal lainnya dikala orang tua sibuk seperti penulis yang hanya bisa maksimal 2 jam sehari bersama dengan anaknya karena harus bekerja dan kegiatan organisasi lainnya yang menguras waktu.


Kutipan favorit dari buku ini

1. Pengalaman dididik oleh orang tua lain

Kenapa Pak De saya begitu mengesankan, sehingga saya banyak menghabiskan waktu bermain di rumahnya dengan anaknya? Karena saya dan anaknya diperlakukan dengan sama. Tidak dibedakan. Apa yang dilakukan pada anaknya, dilakukan juga pada saya. Apa yang diberikan untuk anaknya, dia berikan juga untuk saya. Hal : 1

2. Ketika anak tidak mau mengikuti ajakan shalat

Istri saya tersenyum dan menjawab, “Setelah Ayah berangkat, mereka langsung berteriak, ‘Ayah sudah berangkat!’ dan mereka langsung mengambil air wudhu, dan menyusul Ayah.” Hal : 28

3. Saat memberikan pengertian pada anak setidaknya ada empat cara yang bisa dilakukan agar anak mau shalat. 

- Pertama, berbicara dengan intonasi lembut. 
- Kedua, gunakan kalimat tanya dulu baru perintah. Misalnya, seperti “Nak, sudah shalat belum?” Setelah itu baru orang tua meminta anak untuk shalat. “Yuk, shalat bareng sama Ibu.” 
- Ketiga, ajak saudara untuk menggantikan saat orang tua tidak bisa menemani anak shalat. Misalnya, saat kedatangan tamu di waktu shalat bisa untuk meminta bantuan pada saudara, kerabat dekat, tetangga atau pembantu di rumah sekalipun untuk mengawasi dan menjaga shalat anak. 
- Keempat, gunakan kalimat positif saat memberikan pengertian pada anak. Contohnya, seperti “Hayo, sekarang sudah jam berapa? Kita shalat dulu, yuk”. 
Hal : 96 

4. Lima hal yang harus dilakukan orang tua saat anak meninggalkan shalat. 

- Pertama, memberi teguran. Contohnya seperti “Kalau sejak kecil tidak shalat, mau jadi apa besarnyananti ya?” atau “Jangan pernah tinggalkan shalat saat pergi kemanapun, lho, ya!”
- Kedua, mengingatkan dan memarahi. Tetapi selepas melaksanakan sholat bersikaplah seperti biasanya seolah-olah tidak ada rasa marah sebelumnya. Sehingga anak tau bahwa marahnya seorang Ayah bukan karena membencinya tetapi karena sayang dan ingin menyelamatkan anak dari kebiasaan yang buruk.
- Ketiga, mengurangi uang jajan. 
- Keempat, bersikap cuek. Hampir dua sampai tiga hari ibu mendiamkan, diajak bicara tidak ditanggapi, yang biasanya disiapkan makanan kini harus menyiapkan sendiri.
- Kelima, tidak menuruti keinginan anak. Misalnya, membelikan mainan. 
Hal : 110

5. Beberapa cara pembiasaan yang dapat dilakukan pada anak sejak kecil sehingga mau melakukan shalat berjamaah.

- Pertama, tunjukan contoh yang baik dengan melakukan shalat berjamaah dengan atau tanpa anak-anak.
- Kedua, tentukan waktu untuk seluruh keluarga bisa melakukan shalat bersama-sama. Seperti waktu shalat Subuh, Maghrib dan Isya.
- Ketiga, Ceritakanlah kisah islami yang menarik dan ajukan pertanyaan dari cerita tersebut. Sehingga anak akan rindu momen shalat berjamaah daripada shalat sendiri.
- Keempat, carilah sekolah yang juga membekali pengetahuan agama anak, sehingga terdapat kesesuaian antara apa yang diajarkan di rumah dengan apa yang didapat di sekolah.
- Kelima, selepas anak bisa disiplin dan  menjaga etika saat di dalam masjid maka hal selanjutnya dilakukan adalah mengajak anak untuk shalat Jum’at bersama ayah.
- Keenam, carikanlah peci, sarung atau mukena untuk anaknya yang sama dengan ayah dan ibunya. Karena anak kecil terkadang selalu ingin meniru apa yang dikenakan orang tuanya.

6. Cara membangunkan anak shalat tahajud.

-Pertama, komunikasikan agar anak mencoba bangun lebih pagi untuk melaksanakan sholat. Jelaskan keutamaan orang yang suka bangun pagi-pagi sekali yang bisa memotivasi anak. Waktu shalat Tahajud adalah sebaik-baik waktu untuk berdoa dan meminta segala sesuatu pada A
-Kedua, berikan tanggung jawab anak. Mintalah mereka belajar bangunan tanpa bantuan orang lain. Misalnya, orang tua akan membangunkannya satu kali saja. Jika orang tua membangunkannya sampai empat kali nanti mereka tidak merasa punya tanggung jawab karena merasa orang tua akan terus membantu.
-Ketiga, ajarkan mereka bagaimana caranya. Minta mereka untuk mecatat setiap hari, pukul berapa mereka tidur dan kapan mereka bangun untuk melaksanakan shalat Tahajud.
-Keempat, jauhkan anak dari televisi.

7. Empat kegiatan yang bisa dilakukan seusai shalat bersama anak

- Bersama-sama membaca buku teks keagamaan, dilanjutkan dengan memberikan pertanyaan seputar buku tersebut.
- Menghafal surat Al-Quran
- Menceritakan perihal keislaman yang dapat menumbuhkan karakter positif
- Meminta anak berceramah atau menyampaikan ilmu pengetahuannya beberapa menit agar anak terbiasa berani berbicara di hadapan orang lain dan kita dapat mengukur seberapa luas pengetahuan anak tersebut.

8. Empat momen yangmengakrabkan anak pada ibadah.

- Pertama, dimulai sejak saat mencari pasangan hidup. Sebelum menikah ia harus memikirkan tanggung jawab terhadap anak-anak yang akan lahir kelak. Seorang muslim harus memiliki akhlak yang baik dan berusaha memilih calon pasangan yang baik pula akhlaknya.
- Kedua, saat dalam kandungan banyak perdengarkan bacaan Al-Qur’an, senantiasa berdoa, mencari rezeki yang halal, dan juga menjaga kesehatan.
- Ketiga, setelah anak dilahirkan hingga balita, yaitu perdengarkan adzan dan iqomah, memberi nama yang baik, mengadakan aqiqah, menyusui hingga usia dua tahun
- Keempat, setelah balita merupakan usia yang paling penting. Pada masa ini anak harus banyak diberi perhatian dan kasih sayang. Diantarannya memberikan teladan yang baik, menanamkan disiplin, ataupun memberikan hukuman bila anak berbuat keliru dan memberi hadiah atas prestasi yang dicapainya.

9. Cara membimbing anak taat beribadah

-Pertama, jadilah teladan yang baik. Jika orang tua rajin dalam melaksanakan ibadah shalat maka anak juga akan mudah mengikutinya. Sebab anak adalah peniru ulung yang hebat.
-Kedua, biasakan diri untuk menasehati bukan memarahi. Contohnya “Ayo Nak, setelah selesai makan, nasi yang berjatuhan dibersihkan dan taruhlah di tempat sampah ya”. Dan begitupun dengan shalat, biasakan anak menyelesaikan rangkaian ibadah shalat sampai akhir termasuk dzikir dan doa.
-Ketiga, disiplin dan tepat waktu. Jika kita menunda waktu untuk segera shalat maka rasa malas akan segera menghammpiri dan jika malas maka shalat pun akan selalu ditunda-tunda.
-Keempat, mengontrol shalat anak. Setiap orang pasti pernah merasakan malas dalam beribadah  tanyakan apa masalah yang membuatnya tidak bersemangat kemudian berilah motivasi dan nasihat yang dapat mengatasi masalah tersebut.
-Kelima, berilah hukuman saat anak tidak mau shalat. Mungkin sebagian orang tua akan bertanya bolehkan menghukum anak yang tidak mau shalat? Jawabannya tentu boleh, jika anak sudah masuk masa dewasa (baligh). Dan berikanlah hukuman yang mendidik misalnya ketika terburu-buru shalat maka berikan hukuman membaca istighfar. Jika hukuman tidak membuat anak jera maka porsi hukuman bisa ditingkatkan. Misalnya tidak boleh main selama tiga hari.



Aku ringkaskan sedikit ya tips-tipsnya :)

1. Memperlakukan anak yang bermain dengan anak kita selayaknya anak sendiri
2. Memberikan imajinasi surga
3. Membuat aturan poin, sehingga siapa yang sholat akan mendapat poin. Dan jika poin mencukupi bisa mendapatkan hadiah. Hadiah yang sederhana saja seperti nonton film, makan es krim, berkunjung kesuatu tempat. Jangan lupa filmnya harus yang baik dan ada manfaatnya.
4. Orang tua memberikan teladan atau contoh rajin melaksanakan sholat
5. Ajak anak sholat bersama temannya
6. Membelikan alat sholat yang sama dengan orang tuanya karena anak senang meniru orang terdekatnya sehingga bisa menimbulkan semangat dalam mengerjakan sholat.
7. Menceritakan kisah sahabat atau tokoh islam seusai sholat.
8. Agar anak hapal bacaan sholat, maka saat sholat jamaah dirumah nyaringkan bacaan kita, lalu tempelkan di dinding poster bacaan sholat, dan membantu anak menghapal dengan di cek satu per satu.
9. Bagaimana mengajak anak untuk sholat subuh? Bangunkan saat adzan berkumandang, jika dua atau tiga kali masih belum bangun maka gendonglah anak ke kamar mandi.
10. Mengungkapkan rasa bangga pada anak yang rajin sholat.


Kesimpulan

Buku yang dalamnya penuh isi ini tentunya akan lebih lengkap jika kalian membaca sendiri buku "cara terbaik mendidik anak agar rajin sholat". Mungkin ada pertanyaan apakah sistem poin kedepannya membuat anak sholat hanya jika diiming-imingi saja. Nah itu dijelaskan lebih lanjut dalam buku ini.


Niswin
Hey you can call me Niswin. I born and live at Banjarmasin City, Kalimantan Selatan Province. I work at Province government. I am blogger and reviewer book. I also love cat. You can follow my instagram @niswindows_com and also my lifestyle blog www.niswindows.com

Related Posts

Posting Komentar