Judul buku: Berani Tidak Disukai (terjemahan dari The Courage to Be Disliked)
Penulis: Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan: ke-7, Juli 2025
Jumlah halaman: 323 halaman
Latar Belakang Buku
Awalnya aku mengira buku ini adalah buku penjelasan biasa seperti kebanyakan buku pengembangan diri. Namun ternyata, konsep yang digunakan cukup unik karena disajikan dalam bentuk dialog ala filsafat, yaitu percakapan antara seorang filsuf dan muridnya. Sang murid digambarkan kritis, banyak bertanya, bahkan cenderung membantah, sementara sang filsuf dengan sabar menjelaskan setiap konsep.
Dalam cerita, murid tersebut mendatangi sang filsuf dalam lima malam. Terkadang disebutkan bahwa mereka akan bertemu kembali beberapa waktu kemudian, namun jarak antarpertemuan tidak dijelaskan secara pasti. Dari pertemuan itulah terbentuk lima bagian utama dalam buku ini, yang masing-masing berisi berbagai subpembahasan.
Latar belakang penulisan buku ini juga menarik. Fumitake Koga, seorang penulis sekaligus jurnalis, awalnya membaca karya pengantar filsafat oleh Ichiro Kishimi yang membahas pemikiran Alfred Adler. Dari situ, ia merasa lebih mudah memahami gagasan Adler. Ketika akhirnya bertemu langsung dengan Kishimi, mereka berdiskusi dan berinisiatif menulis buku bersama dengan format dialog tersebut. Konsep ini mengingatkan pada metode pengajaran filsafat klasik seperti yang dilakukan oleh Socrates dan muridnya Plato, yang mengajar melalui tanya jawab.
Socrates dikenal sebagai filsuf yang tidak menuliskan ajarannya sendiri, tetapi pemikirannya kemudian dituliskan oleh Plato. Saat membaca buku ini, aku beberapa kali perlu mencari informasi tambahan karena ada cukup banyak istilah dan tokoh yang belum aku kenal, seperti pemikiran Adler maupun hubungan antara Socrates dan Plato.
Pelajaran Penting dari Buku Ini
Menurutku, buku ini perlu dibaca secara perlahan. Beberapa bagian cukup berat sehingga terkadang perlu diulang agar benar-benar dipahami. Wajar saja, karena buku ini memang berakar pada filsafat.
Inti pesan yang aku tangkap cukup kuat. Buku ini menolak gagasan bahwa masa lalu, seperti trauma, bisa dijadikan alasan mutlak untuk kondisi diri saat ini. Sebaliknya, pembaca diajak untuk fokus pada hal-hal yang masih bisa diubah. Ada satu analogi menarik tentang hidup sebagai lampu sorot di panggung teater: saat kita disorot, yang terlihat hanyalah bagian yang sedang diterangi. Artinya, kita sebaiknya tidak terlalu terjebak pada masa lalu atau terlalu khawatir tentang masa depan, karena yang benar-benar kita miliki hanyalah saat ini.
Secara keseluruhan, buku ini mengajarkan untuk hidup lebih sadar, fokus pada masa sekarang, dan bertanggung jawab atas pilihan diri sendiri.

Posting Komentar
Posting Komentar